Membedah Anatomi Aliran Sesat

Tinggalkan komentar

Oleh : Hartono Ahmad Jaiz
(dikutip dari majalah Sabili)

Perjuangan selalu mendapat dua tantangan. Tekanan dari luar dan duri dalam daging. Ada banyak pola yang mencoba untuk meruntuhkan bangunan Islam, termasuk aliran-aliran sesat yang mengeruhkan sejarah gemilang.

Aliran sesat tampak makin marak, bahkan mengalami euforia (mabuk kebebasan) di masa Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur yang menduduki jabatan sejak Oktober 1999 sampai 23 Juli 2001. Dari ruwatan kemusyrikan sampai JIL (Jaringan Islam Liberal) yang tak mengakui hukum Tuhan muncul secara resmi. Hingga ada tokoh aliran sesat yang keceplosan, “Mumpung presidennya Gus Dur.” Orang mulai bingung. Lantas terbit buku Aliran dan Paham Sesat di Indonesia, 2002, terbelalaklah masyarakat. Ada yang simpati, tapi ada yang gerah.

Dari pihak sesat pun berkelit bahwa yang berhak menentukan sesat itu hanyalah Tuhan. Si sesat masih berteriak pula bahwa yang mengorek kesesatan itu pemecah belah. Kita harus menyadari bahwa yang menyatukan hati itu adalah Allah, bukan kita (lihat QS 2: 62-63).

Adanya persatuan itupun hanya kalau berada pada ketaatan kepada Alllah dan Rasul-Nya. Bila tidak, maka akan bercerai berai. Dalam hadits ditegaskan:

Nu’man bin Basyir berkata, Rasulullah saw menghadapkan wajahnya kepada para manusia, lalu bersabda: Tegakkanlah shaf-shaf (barisan shalat) kalian (diucapkan) tiga kali. Wallahi, kamu sekalian mau menegakkan shaf-shafmu atau (kalau kalian tidak mau) maka Allah pasti akan mencerai beraikan di antara hati-hati kalian.” Nu’man berkata, maka aku lihat seorang lelaki melekatkan pundaknya dengan pundak temannya (dalam shaf shalat), dengkulnya dengan dengkul temannya, dan mata kakinya dengan mata kaki temannya” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Pengertian sesat
Sesat atau kesesatan itu bahasa Arabnya dhalal. Yaitu setiap yang menyimpang dari jalan yang dituju (yang benar) dan setiap yang berjalan bukan pada jalan yang benar, itulah kesesatan. Dalam al-Qur’an disebutkan, setiap yang di luar kebenaran itu adalah sesat (lihat QS Yunus: 32). Kebenaran hanya datang dari Allah.

Pertanyaannya kini, kebenaran dari Allah itu adanya di al-Qur’an dan as-Sunnah, namun cara pemahamannya/penafsirannya model apa? Pertanyaan itu sudah ada jawabannya, dalam hadits tentang 73 golongan, riwayat At-Tirmidzi. “Siapakah dia (golongan yang satu—yang selamat dari neraka—itu) wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “(Mereka yang mengikuti apa) yang aku dan sahabatku berada di atasnya.”

Syaikh Shalih bin Fauzan al-Fauzan, penulis Lamhah ‘anil firaq adh-dhaallah, Membongkar Firqah-Firqah Sesat, berkomentar. Ketika Rasulullah ditanya tentang siapakah satu yang selamat itu, beliau menjawab, “Mereka adalah orang-orang yang menempuh jalan seperti yang aku dan sahabatku tempuh.” Maka barangsiapa yang tetap di atas jalan yang ditempuh Rasul saw dan para sahabatnya, maka dia termasuk yang selamat dari neraka. Dan barangsiapa yang menyelisihi dari hal tersebut sesungguhnya dia diancam dengan neraka sesuai dengan kadar jauhnya.

Dalam praktik, kesesatan itu tidak dianggap sesat walaupun dilaksanakan ramai-ramai. Di antara contohnya adalah kelompok yang tidak langsung dikenali sebagai kelompok sesat, misalnya:

Komunitas Penimbrung Qur’an Sunnah
Golongan yang satu ini tidak mau disebut kelompok agama, tak mau pula disebut sekuler. Tapi mereka menolak semua yang datang dari al-Qur’an dan as-Sunnah. Kelompok ini muncul menjelang pertengahan abad 20 dengan membatasi bahwa al-Qur’an dan as-Sunnah tidak bisa diberlakukan di wilayah mereka, karena beralasan bahwa di tempat mereka bukanlah wilayah al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka punya aturan-aturan tertentu yang kadang masuk ke wilayah yang diatur al-Qur’an dan as-Sunnah dengan “membantu” pelaksanaan praktisnya, dalam hal yang menguntungkan mereka. Misalnya tentang pelaksanaan ibadah haji. Di sisi itulah al-Qur’an dan as-Sunnah mereka terima, bahkan hampir mereka monopoli.

Lain lagi dengan kelompok yang secara nama adalah Islamis, namun justru sesat menyesatkan. Misalnya:

NII KW IX
NII (Negara Islam Indonesia) asalnya DI (Darul Islam, diproklamasikan Sekarmadji Maridjan Kartosoewirjo, 7 Agustus 1949 di Cisayong Tasikmalaya Jawa Barat). Kemudian nama NII itu berupa penjelasan singkat tentang proklamasi. Pada tahun 1980-an ketika diadakan musyawarah tiga wilayah besar (Jawa Barat, Sulawesi, dan Aceh) di Tangerang Jawa Barat, diputuskan bahwa Adah Djaelani Tirtapradja diangkat menjadi Imam NII. Lalu ada pemekaran wilayah NII yang tadinya 7 menjadi 9, penambahannya itu KW VIII (Komandemen Wilayah VIII) Priangan Barat (mencakup Bogor, Sukabumi, Cianjur), dan KW IX Jakarta Raya (Jakarta, Tangerang, Bekasi).

Pada dekade 1990-an KW IX dijadikan sebagai Ummul Quro (ibukota negara) bagi NII, menggantikan Tasikmalaya, atas keputusan Adah Djaelani. Karena pentingnya menguasai ibukota sebagai pusat pemerintahan, maka dibukalah program negara secara lebih luas, dan puncaknya ketika pemerintahan dipegang Abu Toto Syekh Panjigumilang (yang juga Syekh Ma’had Al-Zaitun, Desa Gantar, Indramayu, Jawa Barat) menggantikan Adah Djaelani sejak tahun 1992.

Penyelewengannya terjadi ketika pucuk pimpinan NII dipegang Abu Toto. Ia mengubah beberapa ketetapan-ketetapan Komandemen yang termuat dalam kitab PDB (Pedoman Dharma Bakti) seperti menggantikan makna fai’ dan ghanimah yang tadinya bermakna harta rampasan dari musuh ketika terjadi peperangan (fisik), tetapi oleh Abu Toto diartikan sama saja, baik perang fisik maupun tidak. Artinya, harta orang selain NII boleh dirampas dan dianggap halal. Pemahaman ini tidak dicetuskan dalam bentuk ketetapan syura (musyawarah KW IX) dan juga tidak secara tertulis, namun didoktrinkan kepada jamaahnya. Sehingga jamaahnya banyak yang mencuri, merampok, dan menipu, namun menganggapnya sebagai ibadah, karena sudah diinstruksikan oleh ‘negara’.

Dalam hal shalat, dalam Kitab Undang-undang Dasar NII diwajibkan shalat fardhu 5 waktu, namun perkembangannya, dengan pemahaman teori kondisi perang, maka shalat bisa dirapel. Artinya, dari mulai shalat zuhur sampai dengan shalat subuh dilakukan dalam satu waktu, masing-masing hanya satu rakaat. Ini doktrin Abu Toto dari tahun 2000-an.
Mengenai puasa, mereka mengamalkan hadits tentang mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka dengan cara, sudah terbit matahari pun masih boleh sahur, sedang jam 5 sore sudah boleh berbuka. Alasannya dalil hadits tersebut.

Gerakan ini mencari mangsa dengan jalan setiap jamaah diwajibkan mencari satu orang tiap harinya untuk dibawa tilawah. Lalu diarahkan agar hijrah dan berbaiat sebagai anggota NII. Karena dengan baiat maka seseorang terhapus dari dosa masa lalu, tersucikan diri, dan menjadi ahli surga. Untuk itu peserta ini harus mengeluarkan shadaqah hijrah yang besarnya tergantung dosa yang dilakukan. Anggota NII di Jakarta saja, saat ini diperkirakan 120.000 orang yang aktif.

LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia)
Pendiri dan pemimpin tertinggi pertama gerakan ini adalah Madigol Nurhasan Ubaidah Lubis bin Abdul bin Thahir bin Irsyad. Lahir pada tahun 1915 di Desa Bangi, Kec. Purwoasri, Kediri, Jawa Timur. Paham yang dianut oleh LDII tidak berbeda dengan aliran Islam Jama’ah/Darul Hadits yang telah dilarang oleh Jaksa Agung Republik Indonesia pada tahun 1971. Keberadaan LDII mempunyai akar kesejarahan dengan Darul Hadits/Islam, Jama’ah yang didirikan pada tahun 1951 oleh Nurhasan Al Ubaidah Lubis (Madigol). Setelah aliran tersebut dilarang tahun 1971, kemudian berganti nama dengan Lembaga Karyawan Islam (LEMKARI) pada tahun 1972 (tanggal 13 Januari 1972. Pengikut gerakan ini pada pemilu 1971 berafiliasi dan mendukung GOLKAR).

Aliran sesat yang telah dilarang Jaksa Agung 1971 ini kemudian dibina oleh mendiang Soedjono Hoermardani dan Jenderal Ali Moertopo. LEMKARI dibekukan di seluruh Jawa Timur oleh pihak penguasa di Jawa Timur atas desakan keras MUI (Majelis Ulama Indonesia) Jatim di bawah pimpinan KH. Misbach. LEMKARI diganti nama oleh Jenderal Rudini (Mendagri), 1990/1991, menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia).

Penyelewengan utamanya, menganggap al-Qur’an dan as-Sunnah baru sah diamalkan kalau manqul (yang keluar dari mulut imam atau amirnya). Gerakan ini membuat syarat baru tentang sahnya keislaman seseorang. Orang yang tidak masuk golongan mereka dianggap kafir dan najis.

Modus operandi gerakan ini mengajak siapa saja ikut ke pengajian mereka secara rutin. Peserta akan diberikan ajaran tentang shalat dan sebagainya berdasarkan hadits, lalu disuntikkan doktrin-doktrin bahwa hanya Islam model manqul itulah yang sah, benar. Pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan, boleh ditebus dengan uang oleh anggota ini.

Inkar Sunnah
Orang yang tidak mempercayai hadits Nabi saw sebagai landasan Islam, maka dia sesat. Itulah kelompok Inkar Sunnah.

Ada tiga jenis kelompok Inkar Sunnah. Pertama kelompok yang menolak hadits-hadits Rasulullah saw secara keseluruhan. Kedua, kelompok yang menolak hadits-hadits yang tak disebutkan dalam al-Qur’an secara tersurat ataupun tersirat. Ketiga, kelompok yang hanya menerima hadits-hadits mutawatir (diriwayatkan oleh banyak orang setiap jenjang atau periodenya, tak mungkin mereka berdusta) dan menolak hadits-hadits ahad (tidak mencapai derajat mutawatir) walaupun shahih. Mereka beralasan dengan ayat, “…sesungguhnya persangkaan itu tidak berguna sedikitpun terhadap kebenaran” (Qs An-Najm: 28). Mereka berhujjah dengan ayat itu, tentu saja menurut penafsiran model mereka sendiri.

Inkar Sunnah di Indonesia muncul tahun 1980-an ditokohi Irham Sutarto. Kelompok Inkar Sunnah di Indonesia ini difatwakan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai aliran yang sesat lagi menyesatkan, kemudian dilarang secara resmi dengan Surat Keputusan Jaksa Agung No. Kep-169/ J.A./ 1983 tertanggal 30 September 1983 yang berisi larangan terhadap aliran inkarsunnah di seluruh wilayah Republik Indonesia.

Ahmadiyah
Orang yang mengakui adanya nabi lagi sesudah Nabi Muhammad saw maka mereka sesat. Itulah kelompok Ahmadiyah yang mempercayai Mirza Ghulam Ahmad dari India sebagai nabi setelah Nabi Muhammad saw.

Gerakan Ahmadiyah didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad di India. Mirza lahir 15 Februari 1835 M. dan meninggal 26 Mei 1906 M di India.

Ahmadiyah masuk ke Indonesia tahun 1935, tapi mereka mengklaim diri telah masuk ke negeri ini sejak tahun 1925. Tahun 2000, mendiang khalifah Ahmadiyah dari London, Tahir Ahmad, bertemu dengan Presiden Abdurahman Wahid. Kini Ahmadiyah mempunyai sekitar 200 cabang, terutama Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, Sumatera Barat, Palembang, Bengkulu, Bali, NTB dan lain-lain. Basis-basis Ahmadiyah di Kuningan, Jawa Barat dan Lombok telah dihancurkan massa (2002/2003) karena mereka sesumbar dan mengembangkan kesesatannya.

Tipuan Ahmadiyah Qadyan, mereka mengaku bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu nabi namun tidak membawa syariat baru. Tipuan mereka itu dusta, karena mereka sendiri mengharamkan wanitanya nikah dengan selain orang Ahmadiyah. Sedangkan Nabi Muhammad saw tidak pernah mensyariatkan seperti itu, jadi itu syari’at baru mereka. Sedangkan Ahmadiyah Lahore yang di Indonesia berpusat di Jogjakarta mengatakan, Mirza Ghulam Ahmad itu bukan nabi tetapi Mujaddid. Tipuan mereka ini dusta pula, karena mereka telah mengangkat pembohong besar yang mengaku mendapatkan wahyu dari Allah, dianggap sebagai mujaddid.

Salamullah
Agama Salamullah adalah agama baru yang menghimpun semua agama, didirikan oleh Lia Aminuddin, di Jakarta. Dia mengaku sebagai Imam Mahdi yang mempercayai reinkarnasi. Lia mengaku sebagai jelmaan roh Maryam, sedang anaknya, Ahmad Mukti yang kini hilang, mengaku sebagai jelmaan roh Nabi Isa as. Dan imam besar agama Salamullah ini Abdul Rahman, seorang mahasiswa alumni UIN Jakarta, yang dipercaya sebagai jelmaan roh Nabi Muhammad saw.

Ajaran Lia Aminuddin yang profesi awalnya perangkai bunga kering ini difatwakan MUI pada 22 Desember 1997 sebagai ajaran yang sesat dan menyesatkan. Pada tahun 2003, Lia Aminuddin mengaku mendapat wahyu berupa pernikahannya dengan pendampingnya yang dia sebut Jibril. Karena itu, Lia Aminuddin diubah namanya menjadi Lia Eden sebagai lambang surga, menurut kitabnya yang berjudul Ruhul Kudus. Pengikutnya makin menyusut, kini tinggal 70-an orang, maka ada “wahyu-wahyu” yang menghibur atas larinya orang dari Lia.

Isa Bugis
Orang yang memaknakan al-Qur’an semaunya, tidak sesuai dengan petunjuk Rasulullah saw, maka mereka sesat. Itulah kelompok Isa Bugis. Contohnya, mereka memaknakan al-fiil yang artinya gajah menjadi meriam atau tank baja. Alasannya di Yaman saat zaman Nabi tidak ada rumput maka tak mungkin ada gajah. Kelompok ini tidak percaya mukjizat, dan menganggap mukjizat tak ubahnya seperti dongeng lampu Aladin. Nabi Ibrahim menyembelih Ismail itu dianggapnya dongeng belaka. Kelompok ini mengatakan, tafsir al-Qur’an yang ada sekarang harus dimuseumkan, karena salah semua. Al-Qur’an bukan Bahasa Arab, maka untuk memahami al-Qur’an tak perlu belajar Bahasa Arab. Lembaga Pembaru Isa Bugis adalah Nur, sedang yang lain adalah zhulumat, maka sesat dan kafir. Itulah ajaran sesat Isa Bugis.

Tahun 1980-an mereka bersarang di salah satu perguruan tinggi di Rawamangun, Jakarta. Sampai kini masih ada bekas-bekasnya, dan penulis pernah berbantah dengan kelompok ini pada tahun 2002. Tampaknya, mereka masih dalam pendiriannya, walau tak mengaku berpaham Isa Bugis.

Baha’i
Kelompok ini adalah kelompok yang menggabung-gabungkan Islam dengan Yahudi, Nasrani dan lainnya. Itulah kelompok Baha’i. Menghilangkan setiap ikatan agama Islam, menganggap syariat Islam telah kadaluarsa. Persamaan antara manusia meskipun berlainan jenis, warna kulit dan agama. Inilah inti ajaran Baha’i. Menolak ketentuan-ketentuan Islam. Menolak Poligami kecuali dengan alasan dan tidak boleh dari dua istri. Mereka melarang talaq dan menghapus ‘iddah (masa tunggu). Janda boleh langsung kawin lagi, tanpa ‘iddah. Ka’bah bukanlah kiblat yang mereka akui. Kiblat mereka adalah dimana Tuhan menyatu dalam diri Bahaullah (pemimpin mereka).

Pluralisme Agama, JIL (Jaringan Islam Liberal)
Orang yang menyamakan semua Agama, hingga Islam disamakan dengan Yahudi, Nasrani, dan agama-agama kemusyrikan, mereka juga sesat dan menyesatkan. Itulah kelompok yang berpaham pluralisme agama, yang sejak Maret 2001 menamakan diri sebagai JIL (Jaringan Islam Liberal) yang dikoordinir oleh Ulil Abshar Abdalla. Ulil tidak mengakui adanya hukum Tuhan, hingga syariat mu’amalah (pergaulan antar manusia). Perintah syari’at jilbab, qishash, hudud, potong tangan bagi pencuri dan sebagainya itu tidak perlu diikuti. Bahkan larangan nikah antara Muslim dengan non Muslim dianggap tidak berlaku lagi, karena ayat larangannya dianggap tidak jelas. Vodca (minuman keras beralkohol lebih dari 16%) pun menurut Ulil bisa jadi di Rusia halal, karena udaranya dingin sekali.

Pemahaman “kembali kepada al-Qur’an dan as-Sunnah/al-Hadits” seperti yang dipahami umat Islam sekarang ini menurut Ulil, salah, karena menjadikan penyembahan terhadap teks. Maka harus dipahami bahwa al-Qur’an yang sekarang baru separuhnya, sedang separuhnya lagi adalah pengalaman manusia.

Lembaga Kerasulan
Kelompok ini mengibaratkan Rasul bagai menteri, sedang kerasulan adalah sebuah departemen. Lalu Rasul boleh wafat sebagaimana menteri boleh mati, namun kerasulan atau departemen tetap ada. Diangkatlah rasul baru sebagaimana diangkat pula menteri baru. Karena Nabi Muhammad saw adalah rasul terakhir. Yang berpaham Rasul tetap diangkat sampai hari kiyamat itulah kelompok Lembaga Kerasulan.

Masih banyak sebenarnya lembaga dan gerakan aliran sesat yang berkembang di Indonesia. Ada yang bergerak secara kelompok, tapi ada pula yang bersifat pemikiran individu, seperti Harun Nasution dan Ahmad Wahib. Kedua tokoh ini nyaris sama. Harun Nasution mengatakan bahwa semua agama pada dasarnya adalah sama. Sedangkan Ahmad Wahib yang pernah menerbitkan buku Pergolakan Pemikiran Islam pernah membuat statemen yang mengagetkan dalam bukunya, “Seandainya Muhammad tidak ada, wahyu dari Allah (al-Qur’an) dengan tegas aku berkata bahwa Karl Marx dan Frederick Engels lebih hebat dari utusan Tuhan itu. Otak kedua orang itu yang luar biasa dan pengabdiannya yang luar biasa akan meyakinkan setiap orang bahwa kedua orang besar itu adalah penghuni surga tingkat pertama berkumpul dengan para Nabi dan Syuhada.”

Begitu banyak tantangan untuk umat Islam. Ada tekanan yang datang dari luar, ada pula pengkhianatan dan kesesatan yang muncul dari dalam. Dengan berpikir jernih dan bersandar pada hukum-hukum Allah, semoga umat ini selalu mendapat lindungan-Nya.

Wallahu a’lam bisshawab.

Ingin Jamaah Bersatu, Warga Rusak dan Robohkan Musala LDII di Mojokerto

1 Komentar

Mojokerto (voa-islam.com) -Musala milik Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Dusun Kaweden, Desa Balongwono, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, Rabu (3/2) malam, dirusak dan dirobohkan warga. Alasannya agar tidak ada yang beribadah di musala itu.

Bangunan seluas 84 meter persegi itu dirusak hingga tinggal puingnya saja. Pascaperusakan, beberapa perangkat Desa Balongwono dan Camat Trowulan datang ke lokasi. Tapi mereka tidak berbuat apa-apa dan hanya melihat.

…Pengikut LDII dan warga bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan Trowulan sudah membuat kesepakatan. Isinya: warga LDII dilarang beribadah di musala itu dan harus beribadah di masjid desa…

Sejak musala berdiri, kata Sekretaris Desa Balongwono Abdullah Said, pengikut LDII dan warga bersama Musyawarah Pimpinan Kecamatan Trowulan sudah membuat kesepakatan. Isinya: warga LDII dilarang beribadah di musala itu dan harus beribadah di masjid desa.

Saat Pengrusakan Terjadi, Polisi Ada di Lokasi

Aksi warga yang merusak dan merobohkan bangunan mushola milik LDII di Dusun Kaweden, Desa Balongwono, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, Rabu (3/2/2010) dini hari diketahui oleh Kapolres Mojokerto, AKBP Onto Cahyono, dan beberapa petinggi polres.

“Saat itu Kapolres Mojokerto, camat dan pengurus KUA berada di masjid desa tersebut saat warga merobohkan mushola,” kata Ketua DPD LDII Kabupaten Mojokerto, Yohan Abdillah.

“Saat itu Kapolres Mojokerto, camat dan pengurus KUA berada di masjid desa tersebut saat warga merobohkan mushola,” kata Ketua DPD LDII Kabupaten Mojokerto, Yohan Abdillah.

Masjid di Dusun Kaweden, Desa Balongwono, berjarak sekitar 100 meter dari bangunan mushola yang dirobohkan warga. Kebenaran pernyataan Yohan belum bisa dikonfirmasi ke Kapolres Mojokerto.

Sementara Yohan Abdillah, datang bersama 3 pengurus LDII Kabupaten Mojokerto dan ditemui Sekdes Balongwono, Abdullah Said. “Tolong masalah ini jangan dibesar-besarkan, agar suasana kondusif tetap terjaga,” kata Said.

Kedatangan 4 pengurus DPD LDII Kabupaten Mojokerto ini, bertujuan mencari jalan terbaik agar tidak terjadi konflik berkepanjangan di masyarakat. “Hubungan kami dengan semua umat Islam dari Muhammadiyah dan NU juga sangat baik,” jelas Yohan.

Keluarga Pemilik Mushola LDII Berharap Tak Ada Permusuhan

Pasca aksi pengrusakan mushola milik LDII, di Dusun Kaweden, Desa Balongwono, Kecamatan Trowulan, Mojokerto, pihak keluarga pemilik tanah menjenguk kakaknya.

Kakak Muhammad Amin, Siti Alifah (40), yang tinggal di wilayah Kecamatan Sumobito, Jombang, datang menjenguk adiknya. Namun mereka gagal bertemu. Alifah lalu datang ke Balai Desa Balongwono yang berjarak sekitar 500 meter dari mushola.

“Kabarnya Musala digempur oleh warga, jadi saya ke sini. Itu bangunan aula yang difungsikan sebagai tempat ibadah dan mendidik anak kecil mengaji,” kata Alifah.

“Kabarnya Musala digempur oleh warga, jadi saya ke sini. Itu bangunan aula yang difungsikan sebagai tempat ibadah dan mendidik anak kecil mengaji,” kata Alifah.

Alifah berharap kasus itu tidak menjadi konflik berkepanjangan antara warga dengan keluarga adiknya dan jamaah LDII. “Kami harapkan ada solusi yang terbaik antara warga dengan adik,” kata Alifah.

Sementara hingga pagi ini suasana pasca pengrusakan terkesan sepi. Rumah-rumah warga yang berada di sepanjang gang masjid dusun juga banyak yang tertutup. Sementara rumah Muhammad Amin (37), pemilik tanah sekaligus tokoh warga LDII di dusun itu juga tertutup. (Ibnudzar/dbs).

Tak Mau Pindah, Masjid LDII di Temanggung Dirusak Warga

Tinggalkan komentar

TEMANGGUNG (voa-islam.com) – Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, KH Yakub Mubarok menyayangkan sikap warga Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) yang tidak tepat, sehingga berakibat perusakan masjid LDII di Desa Tlogowero, Kecamatan Bansari, Ahad (6/12).

Yakub mengatakan warga LDII dan warga Desa Tlogowero bisa didamaikan jika LDII rela memindahkan tempat ibadahnya ke daerah lain yang bisa diterima warga sekitar.

“Seharusnya peristiwa itu tidak terjadi jika dilakukan musyawarah untuk mencari jalan keluarnya,” katanya di Temanggung, Senin.

Ia juga menyalahkan sikap LDII yang tidak tepat. Menurutnya, ulah warga LDII yang membangun masjid di daerah yang mayoritas penduduknya penganut ahlusunnah wal jamaah adalah kurang tepat.

“Permasalahan sebenarnya adalah karena warga setempat yang mayoritas ahlusunnah wal jamaah tidak bisa menerima keberadaan tempat ibadah LDII di daerahnya. Solusi terbaik adalah kerelaan penganut LDII untuk tidak mendirikan tempat ibadah di daerah itu,” katanya.

…Solusi terbaik adalah kerelaan penganut LDII untuk tidak mendirikan tempat ibadah di daerah itu…

Yakub juga menilai keberadaan tempat ibadah LDII tidak memenuhi syarat karena tempat ibadah didirikan jika jumlah penganutnya minimal 60 kepala keluarga (KK), sedangkan warga LDII di daerah itu hanya delapan KK.

“Hal itu tidak sesuai persyaratan. Jadi alangkah baiknya jika mereka pindah ke lahan yang lebih `hijau` dan tepat bagi mereka untuk menjalankan ibadah,” katanya.

Sementara itu Ketua Pimpinan Anak Cabang LDII Tlogowero, Tukarman mengatakan selama ini hubungan LDII dengan warga sekitar berjalan dengan baik tanpa masalah.

Menurutnya, rumah ibadah itu digunakan warga LDII dua hari dalam seminggu, yakni setiap Jumat malam dan Senin malam. “Sebelumnya kami juga tidak tahu akan terjadi perusakan tersebut,” katanya.

Secara terpisah, Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat (DPP) LDII Suhartono Riyadi menjelaskan, pihaknya menyerahkan kasus tersebut ke polisi. Untuk itu, ia telah menemui Kapolres Temanggung, AKBP Anthony Agustinus Koylal. Kedatangan mereka untuk menanyakan perkembangan proses hukum atas kasus tesebut.

“Berdasarkan keterangan Kapolres Temanggung, dari 115 warga Tlogowero yang diperiksa polisi, sekitar 40 orang di antaranya mengaku sebagai pelaku pengrusakan dan pembakaran tempat ibadah LDII di Tlogowero,” katanya.

Sejak awal pendiriannya LDII memang kerap menimbulkan kerusuhan dengan umat Islam, karena beberapa doktrin eksklusifnya. Mulanya, LDII bernama “Islam Jamah” yang sering disingkat IJ adalah sebuah aliran sempalan yang secara resmi telah dilarang oleh pemerintah RI lewat SK Jaksa Agung No.Kep-08/D.A/10.197, tanggal 29 Oktober 1971.

Karena sudah dilarang di seluruh Indonesia, maka imam Islam Jamaah, Nur Hasan Ubaidah mencari taktik baru.

Yaitu mendekati dan meminta perlindungan kepada Let. Jen. Ali Murtopo yang saat itu mejadi wakil Kepala BAKIN dan staf OPSUS (Operasi Khusus Presiden Soeharto). Lalui sang imam menyatakan masuk GOLKAR yang saat itu menjadi organisasi milik rezim berkuasa.

Penyimpangan-penyimpangan LDII

Di bawah naungan pohon beringin, Islam Jamaah ganti kulit menjadi LEMKARI (Lembaga Karyawan Dakwah Islam).

Tapi karena isinya sama saja, akhirnya oleh Gubernur Jawa Timur dibekukan dengan SK no 618 tahun 1988 pada tanggal 24 Desember 1988.

Untuk itu proses ganti kulit dilakukan lagi dan kemudian pada Musyawarah Besar Lemkari IV di asrama Haji Pondok Gede Jakarta tahun 1990, LEMKARI diganti menjadi LDII (Lembaga Dakwah Islam Indonesia).

Kenapa kelompok ini berkali-kali dilarang hingga harus `ganti kulit` berkali-kali?

Jawabannya ada pada doktrin yang ditanamkan yang banyak menyimpang dari ajaran Islam yang sesungguhnya.
Doktrin-doktrin sesat dengan mudah ditancapkan kepada para anggota karena rata-rata anggotanya adalah orang-orang berlatar belakang pendidikan agama yang dangkal dan sangat awam. Bisa dikatakan kelompok ini tidak punya ulama atau ahli syariat yang bisa mengawal jalannya anggota dan organisasinya agar tidak keluar dari rel ajaran Islam.

Contoh doktrin yang menyipang dan paling mudah untuk disebutkan adalah:

1. Takfir

Takfir adalah mengkafirkan orang yang tidak berbai`at kepada imam mereka. Ciri takfir ini selalu ada dan menjadi ciri khas kelompok yang menyimpang. Jadi secara psikologis, mereka ingin menanamkan rasa bangga dan ekslusifisme tertentu kepada anggotanya dengan memberi label muslim kepada kelompok mereka dan label non muslim kepada selain mereka (diluar kelompok).

* Dan secara otomatis, setiap anggotanya tidak dibenarkan kawin dengan non anggota, karena menurut mereka, orang yang bukan anggota bukan muslim.
* Begitu juga dalam masalah shalat kelompok, mereka tidak akan mau jadi makmum di belakang orang yang bukan anggota kelompok mereka.
* Bahkan ada juga yang sampai mencuci kursi tamunya lantaran punya tamu bukan anggota mereka. Tamu ini meski formalnya muslim, namun dalam pandangan mereka kafir sehingga tempat duduknya pun harus dicuci karena dianggap najis.
* Lebih kacau lagi, mereka yakin bahwa harta orang lain yang bukan anggota mereka boleh diambil karena milik orang kafir.

Padahal syariat Islam jelas-jelas melarang kita mudah mengkafirkan orang lain, kecuali memang secara tegas seseorang menyatakan diri murtad. Atau melalui proses pengadilan dengan memanggil orang yang bersangkutan dan telah diputuskan oleh mahkamah syar`iyah bahwa seseorang memang nyata keluar dari Islam.

Sedangkan orang yang lahir dari orang tua muslim, otomatis menjadi seorang muslim dan tidak perlu melakukan syahadat ulang di depan Amir, Imam atau apappun isitilahnya. Baca syahadat di depan tokoh terntu lebih mirip dengan baptis gaya kristen ketimbang ajaran aqidah Islam.

2. Menyembah Imam / Amir

Salah satu cara mereka dalam menanamkan doktrin sesat adalah memutlakkan taqlid kepada apapun yang dikatakan imam/ amir.
Ketaatan kepada amir itu berisfat mutlak dan tertinggi. Bahkan mereka tidak boleh menerima ayat Al-Quran dan Sunnah kecuali yang keluar dari mulut sang amir. Dan semua hukum Islam itu sumbernya hanya satu, MULUT SANG AMIR.

Jadi Amir-lah yang menentukan halal dan haram. Bahkan dia bisa memasang tarif untuk menebus dosa dari anggotanya. Karena dia punya hak untuk menghalalkan atau mengharamkan suatu hukum. Yang haram bisa jadi halal asal bayar sekian juta dan seterusnya. Ini juga sangat mirip dengan kelakuan ahli kitab kepada pendeta dan rahib mereka.

Allah SWT berfirman:

“Mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan Al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.” (QS. At-Taubah:31).

Ubadah bin Shamit, seorang shahabat Rasulullah SAW yang dahulu menjadi Ahli kitab pernah mengkritisi ayat ini, dia berkomentar bahwa dahulu ahli kitab tidak menyembah pendeta dan rahib. Namun Rasulullah SAW menegaskan bahwa sikap mereka yang ta`at, tunduk,patuh dan menjadikan mulut pendeta itu sebagai satu-satunya sumber hukum, tidak peduli bahwa hal itu bertentangan dengan kitab suci dan ajaran yang asli dari para nabi, tidak peduli apakah halal atau haram, telah menjadikan mereka MENYEMBAH sang pendeta.

3. Infaq Wajib

Umumnya kelompok sesat berujung kepada pengumpulan duit atau UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Namun karena dikemas dengan doktrin dan segala macam asesorinya, maka dengan setia dan taat mereka mengeluarkan uang buat sang amir.

Kalau perlu sampai jadi miskin sekalian. Dan tarif-tarif infaq wajib itu termasuk gila-gilaan. Ada yang menetapkan 20 % dari penghasilan. Belum lagi zakat, kafarat, denda dan lainnya.

Walhasil, sang amir mendadak kaya raya dan hidup mewah. Sebaliknya, para anggota semakin kurus karena diperas dan dipaksa cari uang. Kalau kepepet, maka haramya mencuri bisa dirubah jadi halal.
Begitu juga dengan merampok, korupsi, menipu dan sejenisnya.
Semuanya bisa jadi halal dengan syarat tidak ketahuan. Kalau sampai ketahuan, yang salah bukan tindakan pencuriannya, tapi kenapa kok sampai ketahuan.

Pokoknya apa saja tidak peduli halal atau haram, yang penting harus setor ke amir. Makin banyak setor, makin tinggi pangkat dan kedudukannya. Semua setoran yang sudah masuk tidak dibenarkan untuk diminta laporan dan catatan pembukuannya.

Ketika nur Hasan Ubaidah meninggal karena kecelakaan lalu lintas tahun 1982, dia meninggalkan harta yang sangat banyak sekali. Semua harta itu diwariskan kepada anaknya Abd. Dhohir yang dibai`at sebelum mayat
bapaknya dikuburkan. Hebatnya, semua harta itu secara hukum resmi telah syah menjadi milik keluarga Nur Hasan lengkap dengan sertifikat tanah dan lainnya.

Jadi lebih mirip sebuah genk mafia atau sekumpulan preman yang terorganisir. Ada sindikat dan ada `the god father`-nya.

4. Taqiyah

Ciri yang tidak pernah luput dari kelompok sesat adalah taqiyah yaitu menyembunyikan doktrin sesatnya kepada siapapun kecuali kepada mereka yang sudah resmi di bai`at hingga pada level tertentu. Sehingga setiap ada orang yang ingin melakukan konfirmasi ke pihak mereka atas berita kesesatan ajaran mereka, selalu akan dipungkiri dengan sekian banyak dalih.

Biasanya, apa yang mereka pajang di `etalase` adalah hal-hal
yang baik, bagus, normal dan biasa saja. Barulah setelah kita masuk dapurnya, kita baru bisa tahu seperti apa wujud asli kelompok itu.

Karena itu, banyak ca-ang (calon anggota) yang menafikan informasi kesesatan kelompok sempalan.Bahkan terkadang membela mati-matian kelompoknya.

Jadi informasi kesesatan doktrin kelompok sesat itu umumnya datang dari mereka yang memang sudah pernah menjadi orang inti atau level yang cukup tinggi dalam komunitas itu. Dan cross-chek antara satu orang dan orang lainnya yang sudah tobat memang menunjukkan indikasi yang sama.

Artinya pola dan sistematika doktirn itu bisa dipetakan dari hasil pengakuan mereka yang sudah `tobat` dari kelompok itu.

Tapi biasanya, pihak pimpinan akan memblack list mereka dan mengatakan bahwa merekaadalah pengkhiatan dan penyebar fitnah karena sakit hati dan seterusnya.

Jadi keterangan dari orang yang sudah tobat itu terkadang tidak mempan karena para angota baru sudah diimunisasi atas info-info kesesatan kelompok mereka.

5. Tidak berani dialog terbuka

Dan jujur saja bahwa semua kesesatannya itu hanya akan mampu memperdaya orang-orang awam dan kosong dari pemahaman Islam yang benar.

Kalau dihadapkan kepada para ulama dan masyaikh dari umat Islam, sudah bisa dipastikan mereka akan menghindari dialog dan adu argumentasi. Jadi memang mereka tidak punya itikad baik dalam menggerakkan kelompoknya. [Ali/dbs]

LDII Tak Dilibatkan di KUI (Kongres Umat Islam)

1 Komentar

LDII menduga, tak dilibatkannya dalam KUI bukan karena ajaran mereka sesat. Tapi karena LDII adalah organisasi yang kecil

LDII "354 meter"

Hidayatullah.com–Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat memutuskan tidak mengundang sejumlah ormas bermasalah pada acara Kongres Umat Islam (KUI) yang akan berlangsung 7 sampai 9 Mei 2010 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, nanti.

Salah satu organisasi yang tak diundang MUI adalah Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII). Menurut KH. Cholil Ridwan, tak diundangnya LDII lebih karena adanya ajaran menyimpang dalam organisasi mereka.

Menyikapi hal ini, Ketua LDII Pusat Prasetyo Sunaryo mengaku belum menerima kabar terkait tidak dilibatkannya LDII dalam KUI. Kendati demikian pihaknya tak kecewa dengan keputusan yang telah diambil MUI tersebut.

“Saya rasa semua keputusan yang berdasar musyawarah untuk mufakat akan melahirkan keputusan yang bijaksana,” kata Prasetyo kepada hidayatullah.com.

Menyoal alasan MUI bahwa LDII adalah organisasi sesat sehingga tak diundang, Prasetyo menduga tak diundangnya LDII lebih karena lembaga yang dipimpinnya masih tergolong kecil.

”Kami sudah terwakili oleh organisasi lainnya,” jelasnya. [syaf/www.hidayatullah.com]

Paradigma “Baru” LDII

1 Komentar

Dengan paradigma “baru”, LDII berusaha mengklarifikasi dirinya bukan sebagai aliran sesat. Benarkah? Amin Jamaludin bilang hati-hati.

Berbagai upaya pemulihan citra sesat dan eksklusif terus dilakukan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Setelah melakukan klarifikasi ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) awal 2007 lalu, LDII menggandeng MUI DKI Jakarta menggelar acara pembekalan kader dai dan daiyah LDII di Pondok Pesantren Minhajurrasyidin, Lubang Buaya, Jakarta, tanggal 16-21 Januari lalu.

Ketua MUI DKI, H Muhammad Zainudin mengatakan dirinya menerima kepercayaan LDII sepenuhnya. “(Tapi) jangan ada anggapan LDII di-MUI-kan atau MUI yang di-LDII-kan,” ujar Zainudin saat memberikan sambutan di acara yang diselengarakan oleh MUI DKI Jakarta ini.

Ketua Umum DPP LDII, Prof Abdullah Syam mengatakan acara pembekalan ini bukan bentuk pembinaan MUI kepada LDII. Karena Abdullah mengaku LDII tidak pernah menganut ajaran sesat Islam Jamaah yang mengkafirkan dan menajiskan umat Islam di luar LDII. Kata Abdullah, ini adalah sinergi kemitraan antara LDII dengan MUI, bukan inisiatif LDII semata.

Abdullah mengakui LDII memang punya hubungan dengan pendiri Islam Jamaah, H Nurhasan Ubadillah. Tapi, ia menegaskan LDII hanya mewarisi fasilitas atau asetnya (pesantren) saja. “Pengikut bukan, penerus juga bukan. Bahkan kita sebagai pembina,” ujar Abdullah kepada Suara Hidayatullah.

Menurut Abdullah, sejak didirikan dengan nama Yayasan Karyawan Islam (Yakari) pada 1972 dan saat berganti nama menjadi Lembaga Karyawan Islam (Lemkari) pada 1981, para pendahulu LDII tidak pernah mengatakan H Nurhasan sebagai amir atau imam. Katanya, LDII kini sudah memiliki paradigma baru dan juga sudah membuat klarifikasi tentang berbagai tuduhan tersebut.

Paradigma baru itu, kata Abdullah, bukan berarti dulu LDII menganut Islam Jamaah, sekarang tidak. “Paradigma ini dalam konteks tataran organisasi. Antara lain program-progaram LDII dikemas dalam suatu rencana strategis, punya visi dan misi, cara pandang baru,” kata Abdullah yang juga pejabat di Badan Penelitiaan dan Pengembangan Departemen Kehutanan ini.

Hati-hati

Ketua Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) yang juga anggota Komisi Pengkajian MUI Pusat, Amin Djamaluddin mengatakan masalah LDII belum selesai. MUI belum mengklarifikasi dan belum menyatakan LDII bebas dari penyimpangan sehingga bisa disetarakan dengan ormas-ormas Islam lain di Indonesia. “Harus hati-hati (terhadap LDII),” kata Amin kepada Suara Hidayatullah.

Amin menunjukkan sejumlah bukti, bahwa LDII sama sekali belum mengubah keyakinannya. Sejumlah bukti tulisan LDII yang dikeluarkan pasca Rakernas LDII Maret 2007 lalu menunjukan demikian. Dalam acara kepemudaan LDII, Cinta Alam Indonesia (CAI), LDII menerbitkan makalah yang masih mengajarkan tentang jamaah dan manqul. Pada bagian akhir makalah tertulis: untuk peramutan Jama’ah dalam pelestarian Jamaah ila yaumil qiyamah, maka melestarikan ilmu al-Quran dan al-Hadits secara manqul-musnad-muttashil mukhlis jamaah, adalah suatu kewajiban dan menjadi satu-satunya tanggung jawab jamaah.

Bukti lain yang ditunjukan Amin, tulisan LDII yang berjudul Nasihat-Ijtihad dari Imam keluaran Mei 2007 yang masih mengandung ajaran mengkafirkan orang Islam non-LDII. Di situ ditulis, “Nasihat imam kepada jamaah, para jamaah supaya betul-betul memiliki faham jamaah yang kuat, keimanan yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh walaupun banyak cobaan, cibiran, fitnahan, bujukan, dan pancingan yang tujuannya supaya jamaah bisa terpengaruh dan akhirnya keluar dari jamaah, murtad dari agama Allah. Itu berarti hilang surganya, mati sewaktu-waktu wajib masuk neraka.”

Menurut Amin, dari kutipan tadi difahami, orang yang keluar dari jamaah mereka adalah kafir dan masuk neraka. “Berarti mereka masih mengkafirkan orang di luar jamaahnya,” kata Amin.

Amin meminta umat Islam berhati hati. Sebab, kata Amin, LDII memiliki doktrin bithonah (bohong). “Jadi, mereka lain di mulut lain di hati, dan bithonah itu bagi mereka wajib,” ujar Amin. *Surya Fachrizal, Dwi Budiman/Suara Hidayatullah

Tebus Mushala dari LDII

4 Komentar

Tanah dan sebagian uangnya dipakai membangun mushala. Namun, setelah keluar dari jamaah tersebut, malah diminta menebus puluhan juta.

Menyusul tulisan pada rubrik Laporan Utama edisi Juni 2009 lalu, koresponden Suara Hidayatullah bertandang ke Pondok Pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Burengan, Kediri, Jawa Timur. Sebenarnya surat permintaan wawancara dengan Ponpes LDII Burengan sudah dilayangkan sejak Juni 2009. Namun, pihak LDII tak kunjung bersedia diwawancarai karena sang pimpinan ponpes sedang di luar kota.
Meski demikian, di akhir Juni Suara Hidayatullah datang langsung ke Burengan untuk wawancara.

Seorang pengasuh pesantren bernama Abdussalam menerima Suara Hidayatullah di ruang tamu. Dia tampak keberatan. “Maaf Mas, ketua lagi di luar kota. Kami sudah membaca tulisan edisi ini (Suara Hidayatullah edisi Juli 2009, LDII Berburu “Sertifikasi” Halal MUI, -red). Mas puas?! Masih belum puaskah memojokkan kami?” kata Abdussalam.

Akhirnya, pihak Ponpes LDII tetap tidak bersedia wawancara. Bahkan ketika ditawarkan hak jawab, Abdussalam malah meminta Suara Hidayatullah balik kanan, meninggalkan lokasi ponpes.

Namun, Suara Hidayatullah punya cerita baru soal LDII / Islam Jamaah ini. Dari informasi seorang sumber, awal Juli 2009 lalu Suara Hidayatullah meluncur ke Kelurahan Tambakbayan, Ponorogo, Jawa Timur. Disini terdapat sejumlah mantan jamaah LDII/ Islam Jamaah yang telah keluar dari jamaah/organisasi tersebut. Seorang diantaranya berinisial GM. Dia bahkan harus merelakan uang sebesar Rp 44.100.000 untuk menebus mushala yang berdiri di atas tanahnya sendiri kepada sang Imam Kelompok LDII/ Islam Jamaah Ponorogo, bernama Sugianto.

Mushala yang terdapat di Jalan Joli-Joli itu bernama Baitus Sholikin. Mushala tersebut mulai dibangun pada tahun 1990 oleh GM bersama warga LDII / Islam Jamaah setempat. Alasan GM merelakan tanahnya waktu itu untuk memudahkan pengkaderan dan pengajian warga LDII.

Sumber: Majalah Islam Suara Hidayatullah edisi Juli Agustus 2009

REKAMAN KESESATAN LDII

36 Komentar

Ketanggor sesat, begitulah kata-kata yang pas disematkan atas sikap hipokrit yang ditunjukkan LDII selama ini. Betapa tidak, pembelaan yang selama ini mereka bela mati-matian terpatahkan oleh data yang kami peroleh ini. Satu lagi fakta empuk dari sekian banyak fakta yang tidak bisa dihindari kerajaan LDII (pusat di Kediri); yaitu bukti rekaman pembicaraan kami dengan para petinggi (amir-amir) kerajaan LDII di Ponpes pusatnya; Kediri.

Berikut kami sajikan rekaman pembicaraan (kami tulis ulang) yang berhasil kami himpun dari para petinggi LDII. Dapat disimpulkan LDII jelas-jelas belum berubah. Bahkan terlihat seperti ada dua kepemimpinan bertolak belakang dalam tubuh LDII; dimana mereka mempunyai cara yang berbeda-beda dalam melindungi doktrin sesat mereka.

– – – – – –

Alhamdulillah, segala puji semua hanyalah milik Allah semata sebagai pemberi petunjuk bagi hambaNya yang ingin kembali. Dia adalah Zat tempat permohonan ampun dan permintaan pertolongan. Dalam konteks kali ini, kami mengajak para pembaca sekalian menyimak pembicaraan kami dengan para petinggi LDII; dalam mengungkap ada apa dengan LDII. Diantara pembicaraan tersebut sebelumnya kami memperkenalkan orang yang telah bersuara tentang doktrin mereka sendiri.

1. USTADZ HAFILUDIEN

Beliau adalah Pakubumi/Ustadz Senior (staf pengajar tetap pondok pesantren Pusat LDII KEDIRI). Berikut ketikan teks dari rekaman pembicaraan kami dengan beliau.

Kami bertanya : Ada beberapa jamaah resah dengan penyampaian mubalig yang mana mubalig tersebut menyampaikan kepada jamaah, begini pak selama ini kita mendapatkan ijtihad dari imam tidak boleh sholat dengan orang luar, tapi dari mubalig ini memperbolehkan sholat dengan orang luar. (bagaimana menurut bapak?)

Pak Hafiludien : Ya.. tidak boleh

Kami bertanya : Tetap tidak boleh ya?

Pak hafiludien : Tetap gak boleh.. Itu keliru, kemanqulannya keliru, MANQULannya keliru.

Kami bertanya : Jadi bagaimana kemanqulan yang pas pak..?

Pak hafiludien : Tetap ga boleh

Kami bertanya : Tetap ga boleh sholat dengan orang luar ya?

Pak hafiludien : Iya tetap ga boleh, kalau sudah terjadi supaya di ulangi sholatnya.

Kami bertanya : Kalau umpama dia terlanjur sholat dengan orang luar, di ulangi lagi ya pak?

Pak hafiludien : Ya di ulangi lagi, kalau terpaksa dan tidak bisa menghindar ya niatnya di niati sholat sendiri. Bukannya kita bermakmum pada mereka. Saat nabi ditanyakan oleh sahabat Hudzaifah bin Yaman bagaimana kalau tidak menjumpai imam dan jamaah jawab nabi Fa’tazil tilkal firoqoh kullaha pisahilah semua firqoh yang ada. Yang di pisahi apa? Yang dipisahi ibadahnya mereka.

Kami bertanya : Berarti kita harus jauh dari mereka?

Pak hafiludien : Iya..! kita tidak boleh beribadah bersama mereka. Fa’tazil tilkal firoqoh kullaha pisahilah semua firqoh yang ada. Yang dipisahi maksudnya adalah ibdah bersama mereka.

Kami bertanya : Berarti kita harus menyelisi dan punya dinding dengan mereka..?

Pak hafiludien : Ya…untuk ibadahnya aja,tapi kalau urusan jual beli, pergaulan silahkan yang penting tidak terpengaruh. Jangan ibadah bersama mereka, sholat bermakmum pada mereka, itu ga boleh. Dan dalam jamaah sudah lazim, sudah sesuai kemanqulan, jangan merubah kemanqulan yang ada.

Kami bertanya : Insya Allah sudah cukup nanti kapan-kapan ada pertanyaan lagi kami akan bertanya lagi pada bapak ya?

Pak hafiludien : iya.

Demikian tanya jawab kami dengan Ustadz Hafiludien. Dari dialog dengan ustadz senior yang juga staf pengajar tetap pondok pesantren Pusat LDII KEDIRI ini, dapat ditarik kesimpulan bahwa:

–> Sholat dan bermakmum di belakang orang yang bukan kelompoknya maka tidak sah hukum sholat tersebut.wajib mengulanginya.

–> Kalaupun terpaksa sholat berjamaah dengan orang luar maka niatnya berjamaah diganti dengan sholat sendiri.

–> Jamaahnya harus terpaku dengan ilmu manqul, walau mungkin ilmu manqul tersebut keliru; wajib diilkuti dan tidak bisa di ubah.

–> Mereka masih mengkafirkan orang diluar kelompoknya. Karena dari amalan saja orang luar tidak diterima.

2. USTADZ MUSTOFA ROYAN

Beliau juga termasuk staf pengajar tetap di Pondok Pesantren LDII Kediri.

Kami bertanya : Bagaimanakah jamaah yang sudah berbaiat kemudian dia keluar dari jamaah, apa dia harus baiat lagi..?

Ust Mustofa : Iya jelas dong harus baiat lagi. Diakan udah keluar jadi otomatis bai’at lagi.

Kami bertanya : Ada beberapa jamaah yang telah membaca buku LDII yang berjudul AFTER NEW PARADIGMA, disitu dijelaskan tentang konstelasi LDII dengan salafy dan ada yang berpandangan tidak mengapa dan kita boleh belajar di pondok pesantren salafy. bagaimana hukumnya seperti itu?

Ust mustofa : Tetap ga boleh, itu kan orang luar.

Kami bertanya : Orang kafir ya pak?

Ust mustofa : Iya, yang jelas mereka bukan orang jamaah, BUKAN ORANG IMAN, tetap ga boleh, ngajinya ngaji di kita aja…

Kami bertanya : Dan ada yang berpandangan dengan buku tersebut, karena ada penjelasan konstelasi LDII kaitan erat dengan salafy. kenapa tidak kita mengaji di salafy juga?! Dan yang menjelaskan ini sering berhubungan erat dengan pak Abdullah Mabrur (Mauludin).

Ust Mustofa : Hati-hati dengan orang itu, coba dipantau saja. Siapa nama orang itu?

Kami bertanya : Namanya Mas Rom.

Ust mustofa : Kamu dengan Bitung jauh nggak?

Kami bertanya : Agak jauh pak.

Ust mustofa : Di Bitung ada yang namanya Fery. coba dipantau dia, kayaknya dia ada link dengan pak Mauludin.

Kami bertanya : Asalnya dari mana?

Ust mustofa : Orang Kediri, dia katanya kerja di Bitung. Dia datang kesana tidak ketempat orang kita, kayaknya sudah ada kost, kata orang kita. Menurut informasi dia sudah pro dengan pak Mauludin.

Kami bertanya : Keluarganya sekarang ada dimana pak?

Ust Mustofa : Keluarganya ada disini, di pondok kediri. Maksud saya tolong dipantau dia, bagaimana kepahamannya. Jangan sampai dia nanti sepahaman dengan pak mauludin. Maka dia akan mempengaruhi jamaah.

Kami bertanya : Ada yang bertanya tentang pak Mauludin, bagaimana statusnya dia, apakah masih jamaah?

Ust Mustofa : Dia sudah bukan orang jamaah lagi..!

Kami bertanya : Berarti sudah murtad ya pak?

Ust Mustofa : Iya. Dia udah bilang. Saat saya tanyakan pada pak Mauludin, ”Sekarang posisi pak Mauludin gimana” pak Mauludin menjawab, ”Kita orang islam itu harus punya amir, tapi amir itu harus di akui oleh semua orang islam, minimal tokoh-tokoh orang islam itu mengakui keamiran kita. Hal itu kan gak mungkin terjadi. (Ust. Mustofa bertanya) Berarti kamu tidak mengakui keamiran pak Abdul Aziz? ”iya” dia bilang begitu. Dan sekarang posisi kamu bagaimana? Pak Mauludin menjawab ”saya dalam rangka uzlah”. Kemudian (Ust. Mustofa) tanya lagi, apakah kamu masih jamaah? Dia mengatakan “Iya saya masih jamaah tapi bukan jamaah LDII”. Berarti dia terang-terangan dia sudah bukan jamaah. Makanya jamaah-jamaah di nasehati dipagari agar tidak terpengaruh dengan seperti itu.

Kami bertanya : Memang beberapa waktu lalu kami mendapatkan ijtihad dari pusat untuk segera menghapus nomer hapenya pak mauludin.

Ust Mustofa : Betul… betull… betull…
Ini dalam rangka nasehati jamaah agar tidak terpengaruh. Jangan terpengaruh dengan keadaan. Kalau pengaruh dulu lewat fisik tapi sekarang pengaruhnya lewat keyakinan. Tekankan jamaah kita yang benar, walau disana itu sama ngajinya Quran hadits misalnya, juga mereka jamaah, juga punya imam. Tapi imam mereka itu Qobisun. Kita yang awal ”fu bi baiatil awwal fal awwal” tetapilah baiat yang pertama maka yang pertama. Sepintas tidak ada beda tapi yang jelas berbeda jauh, berbeda jauh…

Kami bertanya : Apakah boleh saya menyampaikan kepada jamaah bahwa pak Mauludin telah murtad?

Ust Mustofa : Iya memang harus.. Memang dia sudah tidak jamaah..
Dan statusnya pak Mauludin sudah tidak mengakui keamiran kita, dia ngaku bukan jamaah kita, dia mengatakan dia salafy.

Demikian hasil tanya jawab kami dengan Ustadz Mustofa Royan,dari beberepa poin di atas kita bisa menarik beberapa kesimpulan:

-> Bahwa LDII masih dan tetap islam Jamaah yang memiliki imam yang harus di baiat.

-> Warga LDII dilarang menimba ilmu selain dari jalur mereka.

-> LDII masih dan tetap mengkafirkan orang diluar kelompoknya.

-> Siapa saja pengikutnya,kemudian keluar dari jamaah LDII maka orang tersebut di tuduh telah murtad keluar dari keislaman.

3. USTADZ TAUFIQURROHMAN

Beliau termasuk paku bumi staf pengajar tetap di pondok pesantren LDII kediri.

Kami bertanya : bagaimana pak hukumnya orang yang berzina, sebab ada jamaah yang merasa dirinya telah melakukan pelanggaran had. (bagaimana hukumnya).

Ust Taufiq : itu di arahkan ke daerah dulu, nanti daerah akan mepertimbangkan dan menghubungi kepusat apa saja yang semestinya yang dilakukan oleh jamaah teresebut. Nanti bagaimana dia diarahkan menjalankan kafaroh.

Sebelumnya begini pak, bila ada jamaah yang melaporkan seperti ini, hendaknya jangan disuruh sumpah karna igak ada petunjuk seperti itu.

Jadi orang yang bertobat itu kita uji kesungguhan dia dari mentobati kesalahannya dan yang punya haq menguji ini adalah keimaman.baik yang ada di daerah maupun ada di pusat.

(Dan pembicaraan terputus lewat handphone).

Dari pertanyaan dan jawaban diatas bisa kita menarik kesimpulan :

-> Adanya imam yang mengendalikan pergerakan pengikutnya.

-> Dikalangan LDII diadakan pertaubatan, dan pertaubatan itu di terima atau tidak yang menentukan adalah amirnya.

-> Taubatnya seseorang sungguh-sungguh atau main-main yang menilai adalah imam, bukan Allah.

Ket: Data rekaman yang asli ada pada kami: tim Meluruskan LDII.

Older Entries