Tebus Mushala dari LDII

4 Komentar

Tanah dan sebagian uangnya dipakai membangun mushala. Namun, setelah keluar dari jamaah tersebut, malah diminta menebus puluhan juta.

Menyusul tulisan pada rubrik Laporan Utama edisi Juni 2009 lalu, koresponden Suara Hidayatullah bertandang ke Pondok Pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Burengan, Kediri, Jawa Timur. Sebenarnya surat permintaan wawancara dengan Ponpes LDII Burengan sudah dilayangkan sejak Juni 2009. Namun, pihak LDII tak kunjung bersedia diwawancarai karena sang pimpinan ponpes sedang di luar kota.
Meski demikian, di akhir Juni Suara Hidayatullah datang langsung ke Burengan untuk wawancara.

Seorang pengasuh pesantren bernama Abdussalam menerima Suara Hidayatullah di ruang tamu. Dia tampak keberatan. “Maaf Mas, ketua lagi di luar kota. Kami sudah membaca tulisan edisi ini (Suara Hidayatullah edisi Juli 2009, LDII Berburu “Sertifikasi” Halal MUI, -red). Mas puas?! Masih belum puaskah memojokkan kami?” kata Abdussalam.

Akhirnya, pihak Ponpes LDII tetap tidak bersedia wawancara. Bahkan ketika ditawarkan hak jawab, Abdussalam malah meminta Suara Hidayatullah balik kanan, meninggalkan lokasi ponpes.

Namun, Suara Hidayatullah punya cerita baru soal LDII / Islam Jamaah ini. Dari informasi seorang sumber, awal Juli 2009 lalu Suara Hidayatullah meluncur ke Kelurahan Tambakbayan, Ponorogo, Jawa Timur. Disini terdapat sejumlah mantan jamaah LDII/ Islam Jamaah yang telah keluar dari jamaah/organisasi tersebut. Seorang diantaranya berinisial GM. Dia bahkan harus merelakan uang sebesar Rp 44.100.000 untuk menebus mushala yang berdiri di atas tanahnya sendiri kepada sang Imam Kelompok LDII/ Islam Jamaah Ponorogo, bernama Sugianto.

Mushala yang terdapat di Jalan Joli-Joli itu bernama Baitus Sholikin. Mushala tersebut mulai dibangun pada tahun 1990 oleh GM bersama warga LDII / Islam Jamaah setempat. Alasan GM merelakan tanahnya waktu itu untuk memudahkan pengkaderan dan pengajian warga LDII.

Sumber: Majalah Islam Suara Hidayatullah edisi Juli Agustus 2009

Keluar dari LDII

6 Komentar

SURAT PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama : Agus Sumarno
TTL : Malang, 01 Agustus 1978
Alamat : Gampingan RT 015 RW 005 Sumbertangkil
Kec. Tirtoyudo Kab. Malang Jawa Timur
Agama : Islam
Status : Menikah dengan Wasiatun
Anak :
1. Maratus Shalihah (9 tahun)
2. Abdul Fath (7 tahun)
3. Nurfauzan (5 tahun)
4. Setiaji (3 tahun)
5. Ahmad Baihaki (1 tahun)


Menyatakan dengan sebenarnya bahwa :

  1. Masuk kedalam aliran LDII mulai tahun 1990 (sebelum menikah), sampai diusir oleh orang tua dan tinggal terpisah dari orang tua.
  2. Tanggal 06 April 1998 menikah dengan wanita LDII bernama Wasiatun dan dikaruniai lima orang anak.
  3. Memasuki tahun 2008 mulai berpikir tentang kebenaran dan kesesatan LDII.
  4. Pada akhir tahun 2008 memutuskan (tanpa paksaan dari siapapun) keluar dari LDII.
  5. Setelah keluar dari LDII sering didatangi oleh para pengurus LDII dan diajak untuk kembali lagi ke LDII.
  6. Saya menolak dengan tegas untuk kembali ke LDII karena saya merasakan bahwa ajaran LDII itu sesat – menyesatkan. Oleh karena itu, saya siap untuk bersaksi kapanpun diperlukan.
  7. Pada saat saya keluar dari LDII (2008), ajaran LDII masih menganut faham Manqul, dan mempunyai Amir/Imam yang harus ditaati. Amir/Imam LDII saat ini adalah Abdul Azis (putra Nurhasan Ubaidah Lubis, adik kandung Abdul Dlahir yang menjadi Amir/Imam sebelumnya), serta boleh bersumpah palsu terhadap orang-orang kafir diluar jamaah LDII, seperti yang pernah dilakukan oleh pengurus LDII di hadapan MUI pusat. Meskipun sudah bersumpah “Tidak ada lagi bai’at dan mengkafir-kafirkan orang lain” di depan MUI, tapi sumpah tersebut boleh dilanggar karena MUI bukan orang LDII (sesuai penjelasan dari Amir/Imam LDII kepada jamaahnya).
  8. Sampai sekarang, ajaran LDII masih tetap harus Manqul, taat Amir/Imam, dan masih mengklaim sebagai aliran yang paling benar. Sehingga orang atau aliran diluar mereka wajib masuk neraka. Serta masih berlaku sistem pembai’atan.
  9. Setelah saya keluar dari LDII (akhir 2008), saya masih tinggal di Mojokerto. Kemudian saya mengajak keluarga untuk pindah dan tinggal di Malang.
  10. Tanpa disangka dan tanpa sepengetahuan saya, ketika saya pulang ke rumah sehabis kerja, saya dapati rumah dalam keadaan kosong. Ternyata istri dan kelima anak saya dijemput oleh keluarganya yang masih menganut LDII. Dan setelah diselidiki, ternyata mereka dijemput oleh saudaranya, diantaranya:
    – Saliman
    – Sulian
    – Ngadi, dan yang lainnya.
    Mereka dibawa ke Mojokerto ke rumah orang tuanya sampai sekarang.
  11. Kemudian saya datangi isteri dan anak saya. Akan tetapi, isteri saya minta cerai apabila saya tidak mau kembali ke LDII dan bertobat kepada imamnya. Padahal, sebelumnya isteri saya tidak pernah bersikap demikian. Sampai hari ini, baru 1 (satu) orang anak saya yang bisa saya ambil (kembali) untuk sekolah di Malang. Dan yang lainnya sampai saat ini saya belum tahu keadaannya, apakah mereka sudah bersekolah lagi atau belum.Demikian Surat Pernyataan)* ini saya buat dengan sebenar-benarnya dan dalam keadaan sehat jasmani dan rohani, serta tidak ada paksaan dari siapapun juga.

    Jakarta, 19 Mei 2009
    Yang membuat pernyataan,

    (TTD dan MATERAI 6000)

    AGUS SUMARNO

    )* Pernyataan ini dibuat di kantor LPPI (Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam) Jakarta