LDII Tak Dilibatkan di KUI (Kongres Umat Islam)

1 Komentar

LDII menduga, tak dilibatkannya dalam KUI bukan karena ajaran mereka sesat. Tapi karena LDII adalah organisasi yang kecil

LDII "354 meter"

Hidayatullah.com–Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat memutuskan tidak mengundang sejumlah ormas bermasalah pada acara Kongres Umat Islam (KUI) yang akan berlangsung 7 sampai 9 Mei 2010 di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, nanti.

Salah satu organisasi yang tak diundang MUI adalah Lembaga Dakwah Islamiyah Indonesia (LDII). Menurut KH. Cholil Ridwan, tak diundangnya LDII lebih karena adanya ajaran menyimpang dalam organisasi mereka.

Menyikapi hal ini, Ketua LDII Pusat Prasetyo Sunaryo mengaku belum menerima kabar terkait tidak dilibatkannya LDII dalam KUI. Kendati demikian pihaknya tak kecewa dengan keputusan yang telah diambil MUI tersebut.

“Saya rasa semua keputusan yang berdasar musyawarah untuk mufakat akan melahirkan keputusan yang bijaksana,” kata Prasetyo kepada hidayatullah.com.

Menyoal alasan MUI bahwa LDII adalah organisasi sesat sehingga tak diundang, Prasetyo menduga tak diundangnya LDII lebih karena lembaga yang dipimpinnya masih tergolong kecil.

”Kami sudah terwakili oleh organisasi lainnya,” jelasnya. [syaf/www.hidayatullah.com]

Iklan

Paradigma “Baru” LDII

1 Komentar

Dengan paradigma “baru”, LDII berusaha mengklarifikasi dirinya bukan sebagai aliran sesat. Benarkah? Amin Jamaludin bilang hati-hati.

Berbagai upaya pemulihan citra sesat dan eksklusif terus dilakukan Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII). Setelah melakukan klarifikasi ke Majelis Ulama Indonesia (MUI) awal 2007 lalu, LDII menggandeng MUI DKI Jakarta menggelar acara pembekalan kader dai dan daiyah LDII di Pondok Pesantren Minhajurrasyidin, Lubang Buaya, Jakarta, tanggal 16-21 Januari lalu.

Ketua MUI DKI, H Muhammad Zainudin mengatakan dirinya menerima kepercayaan LDII sepenuhnya. “(Tapi) jangan ada anggapan LDII di-MUI-kan atau MUI yang di-LDII-kan,” ujar Zainudin saat memberikan sambutan di acara yang diselengarakan oleh MUI DKI Jakarta ini.

Ketua Umum DPP LDII, Prof Abdullah Syam mengatakan acara pembekalan ini bukan bentuk pembinaan MUI kepada LDII. Karena Abdullah mengaku LDII tidak pernah menganut ajaran sesat Islam Jamaah yang mengkafirkan dan menajiskan umat Islam di luar LDII. Kata Abdullah, ini adalah sinergi kemitraan antara LDII dengan MUI, bukan inisiatif LDII semata.

Abdullah mengakui LDII memang punya hubungan dengan pendiri Islam Jamaah, H Nurhasan Ubadillah. Tapi, ia menegaskan LDII hanya mewarisi fasilitas atau asetnya (pesantren) saja. “Pengikut bukan, penerus juga bukan. Bahkan kita sebagai pembina,” ujar Abdullah kepada Suara Hidayatullah.

Menurut Abdullah, sejak didirikan dengan nama Yayasan Karyawan Islam (Yakari) pada 1972 dan saat berganti nama menjadi Lembaga Karyawan Islam (Lemkari) pada 1981, para pendahulu LDII tidak pernah mengatakan H Nurhasan sebagai amir atau imam. Katanya, LDII kini sudah memiliki paradigma baru dan juga sudah membuat klarifikasi tentang berbagai tuduhan tersebut.

Paradigma baru itu, kata Abdullah, bukan berarti dulu LDII menganut Islam Jamaah, sekarang tidak. “Paradigma ini dalam konteks tataran organisasi. Antara lain program-progaram LDII dikemas dalam suatu rencana strategis, punya visi dan misi, cara pandang baru,” kata Abdullah yang juga pejabat di Badan Penelitiaan dan Pengembangan Departemen Kehutanan ini.

Hati-hati

Ketua Lembaga Pengkajian dan Penelitian Islam (LPPI) yang juga anggota Komisi Pengkajian MUI Pusat, Amin Djamaluddin mengatakan masalah LDII belum selesai. MUI belum mengklarifikasi dan belum menyatakan LDII bebas dari penyimpangan sehingga bisa disetarakan dengan ormas-ormas Islam lain di Indonesia. “Harus hati-hati (terhadap LDII),” kata Amin kepada Suara Hidayatullah.

Amin menunjukkan sejumlah bukti, bahwa LDII sama sekali belum mengubah keyakinannya. Sejumlah bukti tulisan LDII yang dikeluarkan pasca Rakernas LDII Maret 2007 lalu menunjukan demikian. Dalam acara kepemudaan LDII, Cinta Alam Indonesia (CAI), LDII menerbitkan makalah yang masih mengajarkan tentang jamaah dan manqul. Pada bagian akhir makalah tertulis: untuk peramutan Jama’ah dalam pelestarian Jamaah ila yaumil qiyamah, maka melestarikan ilmu al-Quran dan al-Hadits secara manqul-musnad-muttashil mukhlis jamaah, adalah suatu kewajiban dan menjadi satu-satunya tanggung jawab jamaah.

Bukti lain yang ditunjukan Amin, tulisan LDII yang berjudul Nasihat-Ijtihad dari Imam keluaran Mei 2007 yang masih mengandung ajaran mengkafirkan orang Islam non-LDII. Di situ ditulis, “Nasihat imam kepada jamaah, para jamaah supaya betul-betul memiliki faham jamaah yang kuat, keimanan yang kuat sehingga tidak mudah terpengaruh walaupun banyak cobaan, cibiran, fitnahan, bujukan, dan pancingan yang tujuannya supaya jamaah bisa terpengaruh dan akhirnya keluar dari jamaah, murtad dari agama Allah. Itu berarti hilang surganya, mati sewaktu-waktu wajib masuk neraka.”

Menurut Amin, dari kutipan tadi difahami, orang yang keluar dari jamaah mereka adalah kafir dan masuk neraka. “Berarti mereka masih mengkafirkan orang di luar jamaahnya,” kata Amin.

Amin meminta umat Islam berhati hati. Sebab, kata Amin, LDII memiliki doktrin bithonah (bohong). “Jadi, mereka lain di mulut lain di hati, dan bithonah itu bagi mereka wajib,” ujar Amin. *Surya Fachrizal, Dwi Budiman/Suara Hidayatullah

Tebus Mushala dari LDII

4 Komentar

Tanah dan sebagian uangnya dipakai membangun mushala. Namun, setelah keluar dari jamaah tersebut, malah diminta menebus puluhan juta.

Menyusul tulisan pada rubrik Laporan Utama edisi Juni 2009 lalu, koresponden Suara Hidayatullah bertandang ke Pondok Pesantren Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII) di Burengan, Kediri, Jawa Timur. Sebenarnya surat permintaan wawancara dengan Ponpes LDII Burengan sudah dilayangkan sejak Juni 2009. Namun, pihak LDII tak kunjung bersedia diwawancarai karena sang pimpinan ponpes sedang di luar kota.
Meski demikian, di akhir Juni Suara Hidayatullah datang langsung ke Burengan untuk wawancara.

Seorang pengasuh pesantren bernama Abdussalam menerima Suara Hidayatullah di ruang tamu. Dia tampak keberatan. “Maaf Mas, ketua lagi di luar kota. Kami sudah membaca tulisan edisi ini (Suara Hidayatullah edisi Juli 2009, LDII Berburu “Sertifikasi” Halal MUI, -red). Mas puas?! Masih belum puaskah memojokkan kami?” kata Abdussalam.

Akhirnya, pihak Ponpes LDII tetap tidak bersedia wawancara. Bahkan ketika ditawarkan hak jawab, Abdussalam malah meminta Suara Hidayatullah balik kanan, meninggalkan lokasi ponpes.

Namun, Suara Hidayatullah punya cerita baru soal LDII / Islam Jamaah ini. Dari informasi seorang sumber, awal Juli 2009 lalu Suara Hidayatullah meluncur ke Kelurahan Tambakbayan, Ponorogo, Jawa Timur. Disini terdapat sejumlah mantan jamaah LDII/ Islam Jamaah yang telah keluar dari jamaah/organisasi tersebut. Seorang diantaranya berinisial GM. Dia bahkan harus merelakan uang sebesar Rp 44.100.000 untuk menebus mushala yang berdiri di atas tanahnya sendiri kepada sang Imam Kelompok LDII/ Islam Jamaah Ponorogo, bernama Sugianto.

Mushala yang terdapat di Jalan Joli-Joli itu bernama Baitus Sholikin. Mushala tersebut mulai dibangun pada tahun 1990 oleh GM bersama warga LDII / Islam Jamaah setempat. Alasan GM merelakan tanahnya waktu itu untuk memudahkan pengkaderan dan pengajian warga LDII.

Sumber: Majalah Islam Suara Hidayatullah edisi Juli Agustus 2009